Basagita Community — Fiksi Mini, oleh Apriliana Kuntorowati. Rindu menyapa tiap waktu yang tidak mengerti kapan waktunya untuk hadir. Seperti itulah yang kurasakan, saat ia datang dan pergi tanpa mengenal waktu.

 

 

Rindu itu bisa mewujud dalam bentuk apa saja. Bisa berupa hembusan angin pagi yang dingin. Angin dingin yang mengingatkan saat kemah di gunung. Sudah lama juga aku tidak ke gunung untuk menghirup energi alam. Rindu juga bisa terpatri dalam secangkir mug berisi kopi hangat, yang tersaji di depanku saat ini. Mug yang kutemukan di sebuah kardus ketika beberapa waktu lalu membersihkan gudang. Rindu menyapa tanpa ijin terlebih dahulu, membuat aku terpana akan kelembutannya.

Mug dengan desain sederhana, hanya sketsa akar pohon dengan warna tanah, kontras dengan warna coklat muda yang menjadi warna mugnya. Sebuah kalimat tercetak di sana. Ingatanku melayang pada sebuah nama yang memberikan mug itu. Aku memerhatikan uap yang perlahan naik menguarkan aroma kopi, membuatku semakin terkenang padanya seolah rindu menyapa menyentil.

“Yudhis, aku punya sesuatu untukmu.” Kejora menyerahkan sebuah kotak dibungkus kertas kado motif batik kepadaku. “Ini hasil karyaku, lho! Semoga kamu menyukainya,” tambahnya.

“Wah, surprise ini, apa ya isinya?”

Kejora tidak menjawab dan hanya tersenyum sebagai balasannya. Senyum yang membuatku bahagia. Berada di dekat Kejora, seperti menyerap aura positif yang memancar dari dirinya. Ada rasa nyaman dan damai ketika kami bersama. Apakah kami pacaran? Tidak, hanya berteman dekat. Waktu itu aku mungkin naif, memiliki idealisme untuk menyelesaikan kuliah dulu dan baru berpikir mencari pacar saat waktunya tiba. Lagipula di kampusku ini, jarang kutemui mahasiswi. Kejora adalah satu diantara mahasiswi yang mungkin tersesat kuliah di sana.

Kejora, bagaimana kabarnya sekarang? Benakku berkelana memikirkan berbagai kemungkinan tentangnya. Apakah Kejora dulu menyukaiku? Atau jangan-jangan aku juga menyukainya?

Sudahlah, aku harus segera berkemas untuk mengejar waktu jika tidak ingin ketinggalan kereta. Aku harus pergi untuk sebuah tugas dari kantor. Sengaja kupilih kereta karena ingin menikmati perjalanan ini. Perjalanan kembali ke kota ketika aku kuliah dulu. Aku lalu menutup romansa pagi ini dengan menghabiskan kopi yang masih tersisa.

****

Stasiun di pagi hari menyajikan pemandangan manusia-manusia bergegas. Tempat duduk di ruang tunggu sudah tidak muat menampung calon penumpang. Banyak yang berdiri di sepanjang selasar. Kereta yang akan membawaku sudah siap di jalur relnya. Aku memutuskan untuk menunggu di dalam kereta saja. Aku lalu naik dan mulai mencari kursi yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiket.

Seorang perempuan berkacamata sudah duduk di kursi yang dekat dengan jendela ketika sampai di kursiku. Dia sedang membaca sebuah buku tebal. Aku  melihat nomor di dinding gerbong dan memastikan nomornya sama dengan tiket.

“Permisi, Mbak, ini 11D ya?”

“Oh, iya … Maaf. Saya akan bergeser ke nomor saya.” Perempuan itu lalu berdiri untuk menukar tempat duduknya.

Aku memandang wajah perempuan itu sesaat. Ada bayangan wajah yang berkelebat dalam kepala. Senyum lesung pipit itu milik seseorang yang pernah kutemui di masa lalu. Tidak salah lagi.

“Kejora?”

Wajah perempuan itu tampak kaget lalu berusaha mengingat selama beberapa detik.

“Yudhistira ya? Eh, halo, apa kabar?” Kejora akhirnya bisa mengingatku. Dia pun mengulurkan tangannya.

Kami tidak jadi berpindah tempat. Aku biarkan saja dia duduk di dekat jendela. Perjalanan menjadi lebih menyenangkan karena pertemuanku dengan Kejora. Apakah ini kebetulan? Padahal tadi pagi aku baru saja memikirkannya. Mungkin semesta langsung menangkap sinyal rasa rinduku yang tiba-tiba saja mampir menguasai awal hari. Kami bertukar cerita dan tertawa bersama. Ternyata tidak salah ketika aku memilih kereta sebagai kendaraan dalam perjalanan kali ini.

Tak lama suara informasi stasiun terdekat dimana kereta akan berhenti terdengar dari pengeras suara di gerbong. Kejora akan turun di stasiun itu. Dia pun mulai mempersiapkan diri.

“Yudhis, terimakasih ya. Kapan-kapan semoga kita bisa bertemu kembali. Aku turun dulu ya.” Kejora menjabat tanganku lalu bersiap untuk turun.

“Iya, sama-sama. Terimakasih juga sudah mau ngobrol. Hati-hati ya.” Aku lalu berdiri untuk memberinya jalan agar bisa keluar dari kursi.

Aku melihat punggung Kejora yang semakin menjauh lalu hilang di balik gerbong. Rasa senang di hati perlahan menguap berganti rasa sepi. Aku masih harus satu jam lagi berada di kereta sebelum tiba di stasiun terakhir.  Aku mengingat lagi pertemuan tadi dan tersenyum sendiri. Tiba-tiba kesadaran muncul. Aku lupa meminta nomor telepon Kejora. Sial! Langsung saja aku menyentuh ikon Facebook di layar ponsel lalu mencari namanya. Kejora juga tidak ada di Facebook. Kali ini aku benar-benar berharap pada semesta agar mendapatkan cara untuk bisa bertemu dengan Kejora lagi rindu menyapa tiap waktu.

 

~TAMAT~

#pict from Canva


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *