Basagita Community — Hai, Basagiters! Membuang sampah pada tempatnya adalah soal kebiasaan. Kebiasaan disiplin membuang sampah pada tempatnya memang diperlukan latihan sejak dini. Apalagi sampah plastik harus dibuang pada tempatnya, karena sampah plastik sulit terurai oleh mikroorganisme. Plastik memerlukan waktu ribuan tahun untuk bisa dinetralisasi secara alami, apalagi dengan sampah plastik di laut.

Sampah plastik sangat berbahaya untuk lingkungan, apalagi bila sudah mencemari sungai. Yang pada akhirnya sampah plastik itu akan terus bergerak ke laut, kemudian mencemari laut dan meracuni biota laut. Seperti kasus mirisnya bangkai paus yang terdampar di perairan Wakatobi,  ternyata ditemukan 5,9 kg sampah plastik di dalam perutnya.

pict from IDN Times (ket. seorang pria yang sedang sibuk mengeluarkan isi perut bangkai paus)

“Buanglah sampah pada tempatnya!”

Slogan di atas mengenai menjaga kebersihan, seharusnya sudah menjadi makanan untuk kehidupan kita sehari-hari. Tetapi sayangnya, pelajaran mengenai pentingnya menjaga kebersihan itu sama sekali tak membekas di hati. Berbagai media juga telah mengedukasi tentang  bahaya membuang sampah sembarangan, tetapi tak semua lapisan masyarakat benar-benar memahami dampak buruk akibat membuang sampah sembarangan. Terutama sampah plastik dan lantas membuangnya begitu saja ke sungai atau perairan lainnya.

Kasus terdamparnya ikan  paus sperma di Perairan  Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara merupakan kejadian yang akan membuat kita semua tercengang. Betapa laut telah sangat tercemar oleh ulah manusia yang telah dengan seenaknya membuang sampah sembarangan.

pict from Tirto (ket. Contoh sampah plastik yang telah mencemari laut, dan banyak tersebar di lautan Indonesia)

Fakta Laut Telah Tercemar Sampah

Fakta laut tercemar terbukti dari ditemukannya 5,9 kg sampah plastik dalam perut  ikan yang terdampar di Wakatobi itu. Sampah plastik yang terdapat dalam perut ikan terdiri dari, 19 plastik keras seberat 140 gram, empat botol plastik seberat 150 gram, 25 kantong plastik seberat 260 gram, dua sandal jepit seberat 270 gram, 115 gelas plastik seberat 750 gram, serta didominasi tali rafia seberat 3,26 kilogram.

Meski belum terbukti bahwa matinya paus sperma sepanjang kurang-lebih 9,5 meter dan lebar kurang-lebih 4,37 meter itu  karena sampah, tetapi dari hasil temuan sampah plastik sebanyak 5,9 kg itu telah membuktikan bahwa manusia telah melalaikan kewajiban menjaga kebersihan lingkungan.

Nah Basagiters, kasus sampah dalam perut paus yang terdampar di Wakatobi, telah menampar kita semua. Untuk itu, marilah kita mulai mendisiplinkan diri untuk membuang sampah pada tempatnya untuk kebaikan kita semua.

 

[Ditulis oleh Halimah Sadiyah]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *