Basagita Community – Arti Merdeka [Cerpen]

[s18694.pcdn]

Dari kamar ini, aku mendengar suara pidato seseorang tentang kemerdekaan yang diselingi alunan musik lagu-lagu perjuangan. Malam ini adalah malam ulang tahun negaraku tercinta, Indonesia. Hampir di semua tempat di kota tempat aku tinggal saat ini, berdiri sebuah panggung tempat berlangsungnya malam renungan menyambut tanggal 17 Agustus.

Sementara di luar sana suasana begitu meriah, di ruangan kecil dengan cat dinding berwarna krem ini tampak sepi. Meskipun ada televisi, namun benda kotak itu hanya berfungsi sebagai ornamen agar dinding tidak kosong. Dipan di sebelahku pun hanya diisi dua tas jinjing berisi pakaian. Pemiliknya baru saja keluar. Aku juga baru satu jam berada di sini.

“Mbak,tolong nitip tas ini ya, saya mau lihat ke kamar bersalin dulu. Barangkali anak saya sudah nambah pembukaannya,” kata ibu pemilik tas yang ada di dipan sebelahku.

“Oh iya bu, semoga lancar prosesnya,” jawabku berbasa-basi.

Senangnya jika melahirkan ditunggui oleh orang tua dan suami. Tidak seperti aku yang sendirian. Ah sudahlah. Setiap orang memiliki cerita masing-masing.

Klinik Ibu dan Anak tempat aku melahirkan ini memang hanya klinik kecil dengan fasilitas ruang yang terbatas. Tiap kamar diisi oleh dua orang pasien. Sejak tadi malam aku berada di klinik dan berjuang untuk sebuah kehidupan baru.

Sekali lagi aku mendengar teriakan merdeka dari pidato seseorang di luar sana. Merdeka? sudah merdekakah aku? Jika merdeka berarti bebas lepas dari belenggu, barangkali saat ini aku baru saja merdeka dari penderitaan selama sembilan bulan sepuluh hari. Benarkah?

Kehamilan memang sebuah peristiwa yang ditunggu oleh pasangan suami istri dan mereka pasti bergembira ketika peristiwa itu akhirnya hadir. Idealnya memang seperti itu, namun di dunia ini sering terjadi hal yang tidak ideal, hal yang tidak sesuai harapan. Harapanku memang menikah lalu mempunyai anak, tentu saja menikah dengan laki-laki yang sesuai dengan harapanku. Namun, sepertinya Tuhan sedang ingin mengajakku bercanda.

Aku bertemu dengan laki-laki itu pada suatu hari yang biasa. Pertemuan biasa yang menjadi luar biasa karena ada percik-percik asmara yang menghiasinya. Entah siapa yang memulai jatuh cinta, yang jelas hari-hari kami pun dipenuhi oleh bunga-bunga cinta. Ketika jatuh cinta, memang membuat kita mampu melakukan apapun, bahkan kadang-kadang di luar rasionalitas. Itu juga yang terjadi padaku. Aku mengiyakan saja ketika laki-laki itu meminta diriku untuk menjadi istrinya.

Sebuah pernikahan sederhana pun digelar, tanpa pesta dan undangan. Hanya disaksikan oleh pihak keluarga. Setelah itu kami pun merantau ke luar kota, menjalani kehidupan baru bernama pernikahan.

[cafemomstatic}

Pernikahan memang menyimpan berbagai kejutan. Kejutan itu bisa berupa hal manis, namun kita juga harus siap dengan kejutan yang bisa membuat jantung berdegup lebih kencang. Kejutan itu datang pada suatu sore ketika aku sedang menyapu teras rumah. Waktu itu, aku melihat seorang perempuan menggandeng anak perempuan kecil yang tampaknya sedang mencari alamat. Gang di depan rumah tampak sepi. Tidak ada seorang pun yang tampak. Akulah satu-satunya orang yang ada di sana. Mereka pun berjalan mendekatiku.

“Permisi Mbak, alamat rumah ini dimana ya?” Dia menyodorkan sobekan kertas bertuliskan sebuah alamat.

Aku membaca alamat itu. Rasa kaget bercampur penasaran terpancar dari wajahku. Siapa perempuan itu? Mengapa dia mencari alamat rumahku?

“Ini alamat rumah saya. Maaf, Mbak mau mencari siapa?”

Sebuah nama terucap dari mulut perempuan itu. Nama yang sangat kukenal. Nama yang menghiasi hidup dan membuatku merindu.

“Saya mencari mas Andi, dia suami saya, Mbak.”

Sore yang indah itu berubah menjadi kelabu. Lebih tepatnya hatiku yang kelabu. Padahal rencananya aku akan menjemput mas Andi di stasiun setelah beberapa minggu dia tugas ke luar kota. Aku juga akan mengabarkan hasil testpack yang positif. Aku memang sengaja tidak memberitahu tentang kehamilan ini dulu dan menunggu saat dia pulang. Ternyata aku sudah lebih dulu dikejutkan oleh kehadiran istrinya. Mas Andi, laki-laki yang kurindu, yang menghiasi hidupku ternyata sudah beristri dan aku baru mengetahui kabar itu sekarang. Cinta memang buta dan karena itulah aku menjadi salah satu korban cinta buta. Jika dari dulu aku tahu kalau mas Andi adalah laki-laki beristri, tidak mungkin aku menerima lamarannya. Aku memang manusia bodoh!

Pernikahan mulai menunjukkan sisi pahitnya padaku padahal baru sebentar mencicipi kemanisannya. Bukan begini pernikahan yang aku harapkan. Pernikahan bagiku adalah  sebuah perjuangan komitmen dan kesetiaan. Pernikahan yang satu dan untuk selamanya. Namun karena kenyataan yang aku hadapi tidak seindah impian, perpisahan adalah jalan yang akhirnya aku pilih. Aku tidak mau menjadi yang kedua, karena baik aku maupun perempuan itu, kami pasti sama-sama terluka.

Lantas bagaimana dengan kehamilanku? Aku harus menjalani kehamilan sendirian tanpa seorang suami. Bagaimana nanti jika anak ini sudah lahir? Sempat terbersit keinginan untuk menggugurkan janin di dalam rahimku, namun akhirnya aku memilih untuk merawatnya. Biar bagaimanapun, janin ini tidak bersalah. Dia mempunyai hak untuk hidup. Kesalahan ada padaku karena telah memilih laki-laki yang salah.

Seorang perawat memasuki ruangan sambil menggendong seorang bayi.

“Malam, Bu. Ini bayinya silakan disusui,” kata perawat itu sambil menyodorkan bayi mungil yang dibungkus selimut kepadaku.

“Terimakasih, Suster.”

Aku menerima bayiku dan merasa kikuk saat menggendongnya. Ada rasa takut dan ragu. Beginilah ternyata rasanya mempunyai seorang bayi.

Aku memandangi bayi perempuan ini. Kulitnya masih kemerahan. Aku membelai wajahnya perlahan, matanya beradu pandang denganku. Wajah mungil itu mengingatkanku pada wajah  mas Andi. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba datang ketika nama itu terlintas di kepala. Anak ini mengingatkanku pada sebuah luka.

Dia menangis. Tangisan yang menyadarkanku. Bayi mungil ini hanya mempunyai aku, ibunya. Dia membutuhkan seorang ibu dan hidupnya kini bergantung padaku. Sekarang pilihan tergantung pada keputusanku, mau menyusuinya atau tidak.

Aku sorongkan payudara ke mulut mungilnya. Bayi di dalam gendonganku pun langsung menyedot cairan ASI pertamanya. Perlahan air mata menitik dan mengalir membasahi pipi. Aku sekarang adalah seorang ibu. Ada rasa haru sekaligus ragu yang saling beradu. Pekik merdeka sekali lagi kudengar dari kejauhan. Merdekakah aku? Entah, karena setelah ini aku masih harus berjuang menjadi orang tua tunggal.

 

[Ditulis oleh Apriliana Kuntorowati]

 

Kategori: Fiction

Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *