Basagita Community — Cerpen by. Laily Fitriani

ilustrasi by Google

BELIS KAKAKKU

Hujan tengah mengguyur desaku akhir-akhir ini, tak terkecuali disore hari. Udara panas yang biasanya mencekam sirna sudah ditelan siraman air hujan selama dua jam. Walhasil, sejuknya udara sore menyelimuti daerahku dan sekitarnya. Jalanan kembali ramai, lalu lalang oto dengan suara musik ekstra keras membahana lalu lalang di jalan-jalan. Suasana kembali cerah sore itu, namun tidak berarti bagi kakakku, Raihan.

Akhir-akhir ini Kak Raihan makin tak bersemangat, tepatnya galau tingkat tinggi.  Bukan sebab memikirkan kuliah atau dirinya, dia masih saja sibuk memikirkan urusan belis, belis dan belis untuk rencana pernikahannya nanti.

“B-e-l-i-s…” eja Kak Raihan sembari berbaring di tempat tidurnya, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar dan bergantian menatapku. “Zaman sudah maju begini, kita orang masih saja pikir-pikir belis?” kata Kak Raihan padaku.

“Iya kak…tapi kita orang adat, kalau harus bayar ya bayar? Memangnya berapa yang diminta keluarga Kak Sarah, mahalkah?” tanyaku padanya. Kulihat wajah Kak Raihan ditekuk, kusam, tak bersemangat seraya menekuri lantai. Tiba-tiba ia bangkit dari tidurnya seraya mengaduk-aduk isi tas ransel hitam kesayangannya. Sejurus kemudian dia menyerahkan selembar surat padaku.

“Ini surat dari Sarah” kata Kak Raihan singkat seraya menyerahkan sepucuk surat padaku. Aku jadi bingung sambil menatap Kak Raihan. “Bacalah” katanya lirih. Akupun mulai membaca isi surat Kak Sarah, pasti ada hubungannya dengan belis pikirku.

“Hah?? 30 juta??” tidak salah Kak? 30 juta, mahal sekali? Benar tidak?” aku menatap Kak Raihan seakan tak percaya, Kakakku hanya tersenyum kecut sembari mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal.

“Itu masih uang Naila, belum sapi 4 ekor, kerbau 2 ekor, kuda 2 ekor, dan kambing” sambung kakakku.

“Aduh…sabar ya Kak…” kataku mengusap-usap pundak kakakku “Pua sama Mama sudah tahu?” tanyaku pada Kak Raihan.

“Sudah, nampaknya beliau juga keberatan, terlalu tinggi” ucap Kak Raihan lirih sembari duduk di sisi pembaringan. Benar-benar kegalauan tingkat tinggi melanda kakakku. Aku jadi ikut sedih.

***

Dua bulan lagi rencana Kak Sarah akan dilamar oleh Kak Raihan, kae rona aku satu-satunya, laki-laki bertubuh atletis dan berkacamata. Kebetulan Kak Raihan adalah teman kuliah Kak Sarah di Jawa. Mereka  juga teman kecil semasa di MTs dan MA di kampung. Hubungan sebatas teman mereka kini menjadi hubungan spesial. Pua dan Mama sudah tahu hubungan mereka berdua, Rencananya selepas wisuda S2 Kak Raihan dan Kak Sarah akan dinikahkan. Dua minggu lagi Kak Raihan dan Kak Sarah diwisuda, Pua dan Mama datang ke Jawa untuk menghadiri acara wisuda Kak Raihan. Tapi gara-gara belis itulah yang membuat nasib rencana pernikahan kae rona Raihan dan kae wina Sarah menggantung, senyuman dan canda kakakku dari hari ke hari lenyap, yang tersisa hanyalah kesunyian menggurat wajahnya yang tampan.

***

Pua, kira-kira jadi rencana pernikahan kae rona Raihan dengan kae wina Sarah?” tanyaku saat duduk-duduk bersama Pua dan Uwa Harun.

“Insya Allah Naila, doakan semoga Pua bisa menyediakan belis yang diminta keluarga Sarah”.

“Mahal sekali belis keluarga kae wina Sarah Pua, apa tidak bisa kurang?” aku bertanya lagi mencoba menego harga.

“Habis Maghrib kita akan musyawarah dengan keluarga besar Naila, mudah-mudahan bisalah kita minta kurang sedikit” Uwa Harun angkat bicara. Akupun mengangguk dan berharap semoga persoalan belis ini menjadi lancar.

Berbicara soal belis. Inilah memang yang ditunggu-tunggu oleh kedua mempelai. Untuk mempelai laki-laki wajib menyerahkan seperangkat belis yang memang harus dipersiapkan untuk diberikan kepada pihak perempuan. Sedangkan bagi pihak perempuan, belis adalah sebuah penghormatan tersendiri secara adat., para perempuan ibarat dibeli. Semakin tinggi jenjang pendidikan seorang perempuan, maka belisnya juga harus menyesuaikan, namun sudah ada beberapa daerah yang lebih fleksibel memaknai belis. Mereka tetap berpegang pada adat, senyampang tidak memberatkan.

Aku kembali diingatkan dengan pernikahan beberapa Uwa-uwaku. Diantara mereka ada yang telah membayar belis diatas 10 juta, beberapa hewan dan juga bahan makanan. Selang beberapa tahun usia pernikahan mereka ada juga yang mulai berantakan. Duhai…berapa rupiah dan berapa keringat yang telah tercurah untuk mendapatkan belis tersebut?

***

Hari ini aku pergi menemani Kak Raihan ke Taman Laut. Langit membiru, kawanan kelelawar beterbangan saat perahu motor kami berpapasan dengan para turis asing yang asyik bertepuk tangan ke arah Pulau Kelelawar, akhirnya gerombolan kelelawar itu serta merta beterbangan. Suasana hening kembali tercipta saat perahu motor kami melewati pulau demi pulau. Hamparan bening lautan seakan membawaku ingin bercanda dengan ikan-ikan di bebatuan karang. Ai…sungguh indahnya. Tak percuma aku menerima ajakan Kak Raihan untuk mengunjungi taman laut ini. Selain eksotika laut, suasana damai selalu menerpaku, mengajakku untuk turun ke pasir putih dan menenggelamkan diriku disana.

Kupandangi lautan tak berbatas dihadapanku, kurasakan Kak Raihan tersenyum lepas selepas matahari pagi. Ia begitu bersemangat. Rupanya hasil pertemuan dua keluarga semalam cukup membuahkan hasil. Alhamdulillah, belis tetap dibayarkan sesuai dengan kemampuan keluarga mempelai laki-laki. Aku sangat bersyukur. Kulihat kembali senyuman di wajah kae ronaku.

“Naila, Alhamdulillah Allah mengabulkan doa keluarga kita” senyum Kak Raihan seraya bermain-main dengan air.

“Alhamdulillah, Naila ikut senang Kak, semoga urusan kakak lancar hingga ke pelaminan. Amiin”.

“Amiin” senyum kak Raihan seraya mengajakku kembali ke darat.

 

-The End-

 

Note:

Belis                :Mahar

Oto                  : Mobil

Kae Rona        : Kakak Laki-laki

Kae Wina        : Kakak Perempuan

Pua                  : Ayah

Uwa                : Paman


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *