Basagita Community — Cerita pendek yang mengisahkan tentang seorang wanita dan kehidupannya yang penuh dengan lika-liku. Kesedihan berkepanjangan atas kehilangan dua orang terkasih membuatnya tidak segan-segan untuk ikut serta menyusul mereka. Bagai gayung bersambut, ia bertemu dengan seorang pria, yang akan membantunya kelak saat waktunya tiba. Penasaran? Baca terus sampai habis yah!


WISH

4 tahun yang lalu.

“Dengar! Kami tidak bisa membatalkan ini, jika Anda telah menyepakatinya.” Pria dengan kemeja biru bercorak garis itu menatap lawan bicaranya. Seorang wanita berambut pendek sebahu, tengah terisak di hadapannya.

“Ya … “

“Yakin?” Tanya pria itu lagi.

Wanita itu mengangguk.

***

Pict source by Google – Tokopedia

Biran memandangi wajah Naya yang bersemu merah, seperti ada blush on yang tertumpah di pipinya. Ia tersenyum. Didekatinya wajah itu kemudian ia mengecup lembut bibir yang tampak penuh.

Naya melengkungkan senyum serupa sabit yang baru lahir, “Terima kasih untuk perayaan 1 tahun pernikahan kita, Sayang. Aku tidak menyangka dirimu akan bersusah payah mempersiapkan ini.”

Biran mengangguk, binar matanya seperti api yang membakar kayu kemudian menari-nari bersama angin. Hangat. Kemudian Naya beranjak menuju jendela, membiarkan dirinya disaput sinar matahari yang masuk melalui celah-celah dedaunan rimbun.

Naya kembali terbayang ke masa 5 tahun yang lalu. Ia kehilangan kedua orang yang paling ia cintai, Ikra-suaminya. Wajah mungil milik Naina pun muncul dalam laci memori, anak perempuannya yang baru berumur 2 tahun. Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Hidupnya hancur.

Berhari bahkan berbulan, ia hanya termenung di tiap waktunya. Tak terhitung berapa kali waktu makan ia lewatkan, yang ia lakukan hanya terus-menerus menangis. Tulang-tulang di tubuh terlihat dengan jelas. Tak jarang keinginan membunuh dirinya berkali-kali muncul. Ia takut, terlalu penakut. Takut akan rasa sakit ketika mati. Ia bergidik.

Beruntung ia bertemu Biran, lelaki yang kini menjadi suaminya. Ia bahagia, kembali hidup setelah koma sekian lama. Sekali lagi, bayangan dua kesayangannya muncul dengan sukarela. Ia merindukan mereka hingga sebulir air mata jatuh.

“Kau melamun?” Biran kembali menariknya ke masa ini.

Ia menggeleng seraya tersenyum.

Beep. Beep.

Ada pesan masuk ke handphone Naya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja jati tidak jauh dari posisinya. Bergegas ia membaca.

Sudah siap?

Tangannya gemetar hebat.

***

4 tahun yang lalu.

Seorang wanita mengaitkan tali ke sebuah pohon rimbun dan tinggi yang tidak terlihat dari jalan besar. Air matanya terus saja turun, tubuhnya sekali-kali limbung. Tiba-tiba saja ia sudah terduduk lemas di samping pohon besar itu, ia menangis setengah meraung. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Namun, bayangan rasa sakit ketika meregang nyawa membuatnya mundur seketika.

Pengecut, batinnya.

Sepasang mata terus memperhatikannya sejak tadi.

“Apa yang hendak kau lakukan? Bunuh diri?” Pemilik mata itu mendekat. Seorang pria dengan wajah lembut, mengenakan kemeja berwarna biru dengan motif garis-garis.

Perempuan itu terkejut, “Iya! Tidak ada hubungannya denganmu, pergi!” bentaknya.

“Kenapa?”

“Sudah kukatakan bukan urusanmu. Iya-Ya, aku ingin mati. Suamiku, anakku, mereka sudah pergi! Aku bahkan tak sanggup mengakhiri hidupku sendiri.” Ia menangis lagi.

Pria itu melangkah pelan ke arahnya, “Kami  bisa membantu.”

Wanita itu tercengang, dan sedikit menelan air liur.

“Katakanlah, merencanakan kematian seseorang adalah tugas kami. Pilih saja waktunya atau kami yang memilihkannya untukmu?”  Pria itu tertawa terbahak. Suaranya menggema. Ia melangkah perlahan, tak lama bibirnya sudah lebih rapat ke telinga wanita itu.

“Kami akan tiba. Pasti,” bisiknya.

***

Tamat

Samarinda, 12 November 2017

 

[Ditulis oleh Hanasuri Kenda]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *