Basagita Community– [Cerpen] Bukan Pinokio

“Untungnya kalian berdua bukan Pinokio yang tiap kali melakukan kebohongan maka hidung kalian akan bertambah panjang. Tapi mau sampai kapan kalian begini?” Suara Tanty menggetarkan batin Meggy.

”Entahlah,” Meggy hanya bisa menjawab pasrah. Matanya kembali berkaca-kaca, bibirnya bergetar hebat menahan tangis yang hendak pecah.

”Ini pengkhianatan, Meg.”

”Aku  tak peduli ini disebut apa. Aku cuma perlu waktu untuk bisa mengakhiri semuanya.”

”Butuh waktu sampai kapan?” Tanty semakin mendesak. Ia menatap Meggy, ada sebongkah kekecewaan yang bergemuruh dengan riuh disana.

Telah lama dia mencoba menyadarkan Meggy dari kekeliruan ini. Dan selalu Meggy mangkir sambil berdalih sudah berusaha untuk bisa. Namun nyatanya …

”Lona itu adikmu. Kau tega membuatnya merasa sakit? Sekali lagi, kamu bukan pinokio, Meggy!”

Meggy memeluk Tanty.  Sungguh, Meggy membenci sahabat karibnya itu karena apa yang ia katakan semuanya adalah kebenaran.

”Aku bingung, Tanty. Sungguh … ”

”Kalian yang membuat segalanya menjadi rumit. Padahal masalahnya sederhana.”

”Aku harus memulai dari mana?”

”Bicaralah dengan jujur, jangan bohong lagi. Ceritakan segalanya pada Lona tentang kamu dan Tama, maka semua masalah akan selesai.”

“Gak segampang itu, Tan. Rasanya aku belum siap menghadapi apa yang akan terjadi setelah ini.”

“Berpikirlah, Meg, bahwa apa yang selama ini kamu dan Tama lakukan itu salah. Dan kamu harus mengakhiri ini tanpa kompromi lagi.”

***

Meggy tak pernah tau bahwa ternyata Tama menyimpan rasa yang sama seperti apa yang ia rasakan. Meski yang dilakukan Tama adalah sebentuk perhatian dengan level luar biasa, tetap saja Meggy tak bisa menafsirkan serta menterjemahkan benih cinta itu ada diantara mereka.

Meggy dan Tama justru takut pada perasaan yang bernama cinta itu. Takut persahabatan indah yang telah lama terjalin akan terberai hanya karna rasa yang belum tentu terbalas.

Maka cinta itu hanya merekah di hati mereka masing-masing dalam diam. Terus bertumbuh kuat tanpa pernah diikrarkan.

Meggy harus merelakan harapan untuk memiliki Tama pupus, manakala Lona menyatakan isi hatinya pada Meggy, tentang keinginannya menjadi kekasih Tama.

Meggy semakin hancur ketika ia memberitahukan pada Tama tentang keinginan Lona. Ternyata Tama menerima keinginan hati Lona dengan tangan terbuka. Tak lama setelah itu,mereka resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Meggy mulai menghindari Tama. Setegar apapun ia menerima luka, nyatanya ia tak lagi mampu menatap wajah lelaki yang telah menyematkan nama di relung jiwa Meggy itu dengan senyuman. Apalagi menerima kenyataan bahwa kunjungan Tama ke rumah bukan lagi untuk dirinya, melainkan untuk sang adik tercinta, Lona.

Barulah pada suatu ketika, saat Meggy membutuhkan donor ginjal. Tama mendonorkan sebelah ginjalnya untuk Meggy, bersamaan dengan itu pula ia menceritakan tentang semua rasa yang telah lama dipendamnya. Termasuk menerima cinta Lona agar Meggy tak membencinya, sebab Tama sangat takut menyinggung perasaan Meggy bila ia menolak Lona. Meski sebenarnya ia sendiri dilanda dilema.

Tama sangat menyesali kebodohan dan betapa pengecut dirinya yang tak berani menyatakan cinta serta kejujuran hatinya kala itu.

Meggy sangat bahagia menerima pengakuan Tama. Ia pun tak mampu menolak saat Tama menggenggam erat tangannya tanpa penjelasan apapun.

Selanjutnya Meggy menikmati hari-hari indahnya bersama Tama. Tanpa Lona, tentunya. Menjalin cerita layaknya sepasang kekasih. Sementara Lona yang harus tinggal diluar kota karna kuliahnya dan masih berstatus pacar Tama tak berarti  apa-apa untuk mereka.

***

”Sudah kuputuskan.” Meggy menghela nafas panjang dan berat.

”Aku tidak akan jujur pada Lona.” Lanjut Meggy kemudian.

”Sudah kuduga kamu lebih memilih kebahagiaanmu sendiri daripada perasaan Lona.”

”Aku bukan tipe orang yang suka merebut pacar orang lain. Apalagi pacar adikku sendiri.”

”Kamu pengecut! Apa bedanya merebut atau tidak. Kamu sudah menggenggam hati Tama bahkan telah memilikinya.”

”Aku nggak sanggup jujur, Tanty …”

”Kamu bukan tidak sanggup, hanya saja kamu takut. Bukan cuma takut menghadapi Lona, tapi juga takut kehilangan Tama yang terlanjur membuatmu bahagia.”

”Kamu salah, Tanty!” pungkas Meggy cepat.

“Mulut bisa menyembunyikan kejujuran hatimu, tapi mata tidak berkata demikian. Kamu gak rela kehilangan Tama.”

“Mungkin keadaannya akan lebih baik begini. Merelakan yang telah terjadi diantara kami sebagai sebuah catatan tak terhapuskan dalam ingatan kami sendiri. Aku berjanji, aku akan berusaha menjaga jarak dengan Tama. Dan pada akhirnya, cinta itu akan memudar, seiring berjalannya waktu.”

”Cobalah untuk jujur, Meg. Kalau kamu memilih melepas Tama, kamu akan menyakiti Tama dan tentunya dirimu sendiri.”

”Anggap saja ini adalah hukuman untuk kami berdua. Kami pantas mendapatkannya.”

”Berapa kali harus aku katakan, Lona itu adikmu dan kamu juga bukan pinokio. Pasti dia akan mengerti dan menerima semuanya kalau kamu jujur.”

”Dia akan merasa sakit dan terkhianati, Tanty. Biarkan cerita ini menjadi rahasia kita, hanya kita bertiga yang tau. Aku, kamu dan Tama.”

”Tak lelahkah dirimu dengan semua kebohongan ini? Berpura-pura bahagia dengan hubungan mereka. Bersikap seolah tak pernah ada sesuatu yang istimewa antara kamu juga Tama. Sanggupkah kamu memendam sakit karena tak dapat merengkuh Tama setelah Lona kembali kesini?”

Meggy hanya mampu tertunduk mendengar ucapan Tanty. Meggy memang tak tau sampai kapan harus berbohong.

***

Ditempat lain, sebuah cerita cinta juga baru dimulai. Antara Lona dan Niko.

 

Lona bersandar di bahu Niko, cowok yang belum genap setahun menemani hari-hari sepi selama berada jauh dari Meggy. Meggy satu-satunya sanak yang masih dia punyai. Kakak perempuan yang sangat mengerti dan memahaminya selepas ayah dan ibu bersemayam dalam keabadian.

Lona ingin mengakui satu hal pada Meggy, bahwa dia punya seseorang selain Tama di hatinya kini.

Lona tak sanggup sendiri, itu sebabnya saat Niko datang dan memberikan kasih sayang serta perhatian, Lona langsung ‘meleleh’.

Sejak awalpun hati Lona tak bisa dibohongi. Tama memang pernah datang membawakan segenggam cinta padanya. Tapi Lona merasa ada sesuatu yang salah dengan itu. Entah apa.

Mungkin saat kembali pulang nanti Lona akan bercerita, memendam dusta selama hampir setahun saja sudah membuatnya jengah dan dipenuhi rasa bersalah. Dia akan meminta Meggy agar bersedia membantu Lona untuk menjelaskan kondisi ini pada Tama. Bukankah selama ini mereka begitu dekat dan akrab?

Andai saja Meggy tak keberatan, Lona justru ingin menjodohkan Meggy dengan Tama. Sebab bila dilihat dan ditelaah, mereka sangat serasi untuk menjadi pasangan kekasih yang sesungguhnya.

“Aku memang bukan Pinokio yang bila berbohong hidungnya akan bertambah panjang. Tapi kebohongan tak membuat jiwaku tentram. Tentang Niko, aku akan menjelaskannya pada Meggy dan Tama.”

Lona bergumam pada dirinya di depan cermin sambil tersenyum optimis. Lona harus memperjuangkan Niko dengan segenap kejujurannya.

***

 

 

[Ditulis oleh Syefrianidar]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *