Basagita Community — Basagiters, beberapa waktu lalu jagad superhero Marvel dirundung duka. Sang creator telah tutup usia pada hari Selasa (12/11) atau Senin waktu Los Angeles, di Cedars-Cinai Medical Center, LA. Keterangan singkat disampaikan oleh Kirk Shenck, mewakili anak Lee, Joan Celia, bahwa pencipta Spider-Man, Daredevil, Black Panther, dan superhero lainnya, telah meninggal pada usia 95 tahun.

pict from Google

Ucapan duka cita mengalir dari seluruh dunia untuk sosok jenius di balik lahirnya superhero Marvel. Tak terkecuali para pemangku jabatan di Marvel Studios, maupun Disney. Bob Iger yang merupakan CEO Disney, menuturkan kenangannya akan diri Stan Lee yang sangat menginspirasi. Dia mengibaratkan Lee tak ubahnya superhero seperti karakter-karakter ciptaannya.

Tak ketinggalan pula pemeran Captain America, Chris Evans, lewat akun twitter-nya menyatakan rasa kehilangan terbesarnya pada sosok jenius Stan Lee. Dunia tidak akan bisa menemukan figur seperti Stan Lee dalam tahun-tahun mendatang. Figur yang bisa memberikan semangat, kepercayaan diri, sekaligus kegembiraan tanpa memandang usia dan warna kulit. Ya, Stan Lee memang terkenal dengan jiwa antirasisme-nya.

Pria kelahiran Manhattan, New York, 22 Desember 1922 tersebut pernah mengungkapkan rasa mindernya dalam sebuah sesi wawancara di awal karirnya. Lee mengungkapkan bahwa, ketika banyak orang berusaha mengubah wajah dunia dengan membangun jembatan, atau menemukan obat wabah, di lain pihak dia hanya bisa membuat buku komik. Namun, kini dunia berterima kasih atas sumbangsihnya yang tak terkira dalam industri komik modern. Begitu ungkap DC Comics, dalam akun media sosial resmi mereka.

Karir Lee di tahun 1960an cukup dibilang kurang membuatnya bahagia. Dia mendapat tekanan cukup besar dari Comics Code Authority yang mencanangkan aturan komik bersih. Komik pada masa itu harus bebas dari kata-kata kasar serta aksi brutal. Sosok superhero pun haruslah benar-benar sosok yang sempurna, tanpa cacat. Mengakibatkan tingkat penjualan komik merosot hingga 75%.

Lee yang akhirnya memutuskan tetap pada pilihan hatinya, mulai memperkenalkan karakter-karakter pahlawan yang lebih manusiawi. Tidak ada salahnya, jika seseorang yang diberkahi kekuatan super juga bisa marah, sedih, atau pun hidup melarat. Tengok saja karakter Daredevil yang buta, atau Black Panther yang berasal dari kalangan kulit hitam. Mereka sebagian kecil karakter yang diciptakan Lee dengan segala problematika kehidupan, yang hampir semua manusia normal mengalaminya juga. Berkat itulah, mengapa komik-komik Lee bisa menggebrak dan mendapatkan tempat di hati penggemarnya hingga berdekade lamanya.

Fakta Unik dari Sang Maestro

  1. Stan Lee bukanlah nama aslinya, itu hanya nama pena untuk komik-komiknya. Stan Lee terlahir dari pasangan Jack dan Celia Lieber, imigran Rumania, dengan nama asli Stanley Martin Lieber.
  2. Lee memiliki hobi menulis dan membaca sejak kecil. Di usianya yang ke-10 tahun, dia sudah terbiasa membaca karya-karya Shakespeare, Sir Arthur Conan-Doyle, dan Mark Twain.
  3. Awal karirnya adalah seorang editor di Timely Comics pada tahun 1941, yang akhirnya menjadi Marvel Comics di tahun 1961.
  4. Stan Lee selalu hadir di dalam film layar lebar Marvel sebagai cameo. Kehadiran sang creator yang berperan menjadi dirinya sendiri itu menjadi hal-hal paling dinantikan oleh para penggemar Marvel.
  5. Dilansir TIME dan The New York Times, total pendapatan film Marvel telah menembus USD 24 Miliar atau setara Rp 350 Trilliun. Pendapatan tersebut belum mencakup penjualan merchandise dan komik. Namun, kekayaan Lee tidak mencapai separonya. Bahkan pada tahun 2009, saat Disney membeli Marvel, Lee tidak kebagian sepeser pun. “Seharusnya aku lebih tamak,” katanya kepada wartawan Hollywood Reporter pada sebuah wawancara di tahun 2016.

Kini, sang maestro telah tiada. Meninggalkan warisan yang tidak akan pernah lekang oleh masa. Bukan jembatan, atau obat-obatan pengusir wabah. Namun sebuah warisan keoptimisan dalam setiap karakter superhero Marvel rekaannya. Bahwa dunia akan terus melahirkan superheroes yang mampu mengubah wajah peradaban manusia menjadi lebih baik. Terlepas kau terlahir buta atau berkulit hitam sekalipun. Semua berhak menjadi pahlawan super.

Excelsior, Sir!

[Ditulis oleh: S.S. Jayaningsih]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *