Basagita Community [Fiksi mini] Ketika Mimpi Tak Lagi Sama

Tempat yang sepi. Inilah alasanku berada di sini. Aku sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela besar yang membingkai sketsa jalanan waktu senja. Kafe tampak lengang. Berbanding terbalik dengan hiruk pikuk jalanan di depan. Orang-orang lalu lalang, juga kendaraan yang memadati jalan. Mereka semua bergegas. Sementara di sini hanya ada satu pelanggan yang sedang duduk di sudut ruangan. Jarak kami tidak jauh karena ruangan kafe ini memang tidak terlalu luas. Dia tampak khusyuk menekuri layar laptop dan mengetik sesuatu. Segelas lemon tea dingin menemani di meja. Sementara itu, pelayan kafe mulai menyalakan lampu. Cahaya berpendar keluar dari kap lampu yang sengaja didesain berlubang. Musik instrumental saxophone pelan mulai terdengar.

Sudah setengah jam aku berada di sini bersama secangkir kopi yang isinya tinggal separuh. Apakah aku sedang menunggu seseorang? Tidak! Aku hanya sedang mengumpulkan serpihan kenangan. Salah satu kenangan itu adalah sebuah novel dari dia, yang sedang kubaca saat ini. Dia? Sebuah nama berkelebat di kepala dan langsung saja gambaran itu muncul lagi seperti film yang diputar. Ternyata aku masih mengingatnya meskipun waktu terus berjalan.

Terbuat dari apakah kenangan itu? Berada di sini, di kafe ini, memutar kembali ingatan lima belas tahun lalu. Sore itu, aku dan dia, kami mengucapkan janji, sebuah janji manis bahwa kami akan bersama menyatukan cinta setelah berhasil mencapai cita-cita.

***

“Fian, boleh aku minta waktu? Aku harus menyelesaikan tugas ini dulu, kita akan menikah setelah aku pulang.”

“Saras, aku tidak berjanji untuk bisa setia, tapi aku akan mencoba. Lanjutkan belajarmu ke negeri Sakura.” Jawaban Fian membuatku mantap untuk pergi meninggalkannya sementara waktu.

Aku memegang kata-kata Fian. Satu hal yang aku yakini adalah cinta itu setia.

Aku berangkat belajar sambil membawa sepotong cinta. Satu putaran musim berlalu sudah. Selama ini komunikasi kami lancar. Jarak tidak menghalangi kami merawat cinta. Cinta memang perlu dirawat layaknya sebuah tanaman, yang perlu mendapat siraman air dan cahaya matahari.

Tanpa terasa tugas belajarku telah selesai. Aku pulang ketika angin musim gugur menyapa kulit dan meninggalkan rasa dingin. Fian menyambutku di bandara dengan sebuah pelukan. Rasa rindu yang tertahan terbayar sudah. Namun perjumpaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa minggu kemudian kantor menugaskanku ke luar kota.

“Fian, apakah kamu masih bisa menunggu?”

Fian diam. Seberkas keraguan terpancar dari wajahnya.

“Maaf Saras, ternyata menunggu itu melelahkan sekaligus menyakitkan. Maaf, kali ini aku tidak bisa menunggumu lagi.”

“Apakah itu artinya kita akan berpisah dalam arti sebenarnya?”

Akhirnya kisah kami harus berakhir. Seperti musim gugur yang menyejukkan berakhir dan berganti dengan musim salju yang dingin membeku. Seperti Fian yang pergi membawa hatiku. Hatiku kini bersalju dan beku. Enam bulan kemudian, aku menerima undangan pernikahan Fian. Setelah itu dia menghilang tanpa kabar.

***

Seorang lelaki masuk mendorong pintu kafe. Aku tidak dapat melihat jelas wajahnya karena terhalang topi di kepala. Lelaki itu lalu duduk, melepaskan topi, dan mulai membaca menu.

Sekarang aku dapat melihat wajahnya. Benarkah penglihatanku? Lima belas tahun yang lalu kami terakhir bertemu dan aku tidak meragukan penglihatanku. Ya, wajah itu masih tersimpan rapi di hati dan kepala.

“Fian?” Pelan nama itu terucap dari bibirku.

Di saat yang sama, lelaki itu juga melihatku.

“Saras?” Fian tidak mampu menyembunyikan kekagetan dalam suaranya.

Kami saling menatap selama beberapa detik. Jantungku tiba-tiba berdesir. Fian mendatangi lalu bergabung di mejaku.

“Apa kabar Saras?”

Pembicaraan pun mengalir menjadi cerita. Cerita tentang apa saja yang sudah terjadi selama ini. Fian juga bercerita jika dia baru saja bercerai. Ada jeda hening beberapa saat ketika Fian selesai menceritakan kisahnya.

“Bagaimana jika kita mengulang kisah?” Kalimat itu muncul dari mulut Fian.

“Fian, menunggumu melamarku adalah mimpi yang selalu kurajut hampir tiap malam. Namun seperti yang pernah kamu bilang bahwa menunggu itu melelahkan, aku pun lelah. Kenyataan sudah berbeda. Minggu depan aku akan menikah dengan lelaki pilihan orangtuaku. Mungkin kisah kita akan berlanjut di kehidupan yang akan datang.”

 

[Ditulis oleh Apriliana Kuntorowati]

 

Kategori: FictionHiburan

Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *