Basagita Community — Cerpen by. Laily Fitriani

Kotak Perhiasan Ibu

Kotak Perhiasan (pict from google)

“Mau kamu bawa kemana kotak perhiasan ibu Ndah!”  suara Ratmi mengagetkan Indah. Gadis berkerudung biru itu diam seraya melihat kakak perempuan keduanya sekilas lalu dengan tergesa-gesa ia memakai sepatunya dan menyambar kunci motor yang tergantung di tembok.

“Ndah!” kamu dengar nggak? Mau kemana kamu?” kata Mbak Ratmi setengah menjerit sembari mencengkeram lengan adiknya.

“Bukan urusan Mbak!” jawab Indah pendek.

“Ndah, itu kotak perhiasan milik ibu, bukan milikmu! Buat apa kamu bawa segala, kamu mau kemana?” tanya Mbak Ratmi lagi.

“Ada apa tho? Ribuuut saja, ndak ingat Ibu baru meninggal? Kalian sudah lupa??” ucap Mbak Wati kakak pertama Indah sembari menggendong Naura.

“Mbak Ratmi menggangguku Mbak?” sungut Indah dengan muka tertekuk.

Lha? Gimana aku ndak emosi tho Mbak? Indah bawa kotak perhiasan Ibu …” jawab Mbak Ratmi tidak mau kalah.

“Indah, sebentar. Kembalikan kotak ibu” pinta Mbak Wati sengaja ia berdiri di tengah adiknya agar Indah tidak bisa mengeluarkan motornya.

Perlahan Indah menyerahkan kotak merah marun dari beludru pada Mbak Wati. Indah acap kali menyerah pada ucapan Wati sebab kakaknya Wati yang sudah membiayai kuliah hingga ia meraih gelar sarjana seminggu yang lalu. Indah mengembalikan motor pada posisinya lalu menghempaskan diri diatas sofa dengan wajah ditekuk. Mbak Ratmi geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adik bungsunya.

“Biar kotak ibu aku yang simpan Rat” ucap Wati di ruang tengah rumah.

“Ya Mbak. Isinya apa Mbak, aku penasaran kenapa Indah getol ingin mengambil kotak ini” ujar Mbak Ratmi seraya meneguk air mineral dan menatap adik bungsunya.

Indah terdiam saja acuh tak acuh. Lalu Mbak Wati membuka kotak perhiasan beludru diatas meja dengan hati-hati. Tampak selembar kertas yang digulung teronggok dalam kotak. Ratmi mengambil kertas yang sudah lusuh  seraya membacanya,

“Anak-anakku, selama ini saat ibu dapat arisan ibu simpan sebagian uang untuk kalian. Semuanya ada dalam kain broklat coklat di lemari. Semuanya milik kalian. Jangan lupa untuk saling menyayangi  , jangan mengambil hak orang lain”. Mbak Ratmi melipat selembar kertas itu seraya menghapus airmata. Tampak Mbak Wati buru-buru menyeka airmatanya yang juga berjatuhan. Indah menggenggam tangan kedua kakak perempuannya. Mereka bertiga berpandangan dan saling berpelukan dalam tangis mengingat Ibu.

***

“Siapa yang dapat arisan Bu?” tanya Wati sambil memotong tempe.

“Giliran Ibu” senyum Ibu seraya mengaduk-aduk gudeg, wajah beliau sumringah.

“Alhamdulillah Bu, Wati ikut senang” ujar Wati memeluk Ibu.

“Wah … Ibu dapat arisan ya? Makan enak nih!” canda Mbak Ratmi.

Lha ini Ibu masak gudeg kesukaan kalian” jawab ibu seraya meletakkan gudeg yang sudah masak.

“Harumnya Bu, hemm lezat, nikmat!” kata Mbak Ratmi sembari mengatur piring di meja makan.

“Makan istimewa yo Bu” ujar Indah sepulang sekolah. Ibu mengangguk tersenyum.

Selalu, setiap kali dapat arisan Ibu memasak sayur kesukaan ketiga putrinya. Mbak Ratmi, Mbak Wati dan Indah.

***

Mbak Wati lalu mengajak Ratmi dan Indah ke kamar Ibu dan menemukan kain broklat coklat. Ibu telah membungkus sesuatu dengan kain broklat itu. Ada tiga benda bertuliskan nama ketiga putrinya. Indah berpandangan pada kedua mbaknya seraya menyerahkan bungkusan kain bertuliskan nama.

“Ayo kita buka” bisik Mbak Wati diiyakan oleh kedua adiknya.

Merekapun membuka isi kain dan mendapati gelang emas dengan ukiran nama masing-masing. Ketiganya tersedu-sedu. Tak disangka Ibu begitu memperhatikan ketiganya meski dengan rahasia di dalam kotak perhiasan miliknya. Mereka bertiga berangkulan dan bersama-sama menuju ke pusara Ibu.

 

Tamat


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *