Basagita Community — Cerpen (Cerita Pendek) by. Seli Andriyan Sebuah cerita pendek yang menceritakan tentang seorang dokter perempuan yang mengalami masa-masa menyakitkan saat remajanya dulu. Ia merasa masa remajanya terulang kembali saat melihat seorang anak perempuan yang memiliki nasib mirip dengannya, hanya saja apa yang dirasakan anak perempuan tersebut lebih menyakitkan dan perih, lalu apa yang akan Sofia lakukan?


Sofia

pict source by Google

Kaki jenjang dengan sepatu pentofel hitam itu melangkah lebar menyusuri koridor rumah sakit. Setengah jam waktu yang ia butuhkah untuk kembali, setelah salah seorang perawat menghubungi ponselnya.

Tiara, gadis remaja itu mencoba mengakhiri hidupnya lagi untuk kedua kali, sejak dibawa ke rumah sakit ini.

Kalau saja seorang perawat terlambat menemukannya, gadis berusia lima belas tahun itu pasti sudah terbujur kaku dalam kantong jenazah.

Masih mengatur napas yang tersengal, ia berhenti di depan sebuah kamar.

“Dokter Sofia,” sapa seorang perawat setelah melihatnya, kemudian mundur beberapa langkah, memberi ruang perempuan dengan kaca mata kucing itu.

“Gimana keadaannya sekarang?” Ia bertanya tanpa mengalihkan pandangan pada gadis yang sedang terlelap di ranjang pasien.

 

“Dia sudah tenang sekarang, jangan terlalu khawatir.” Seorang lelaki dengan jas putih mendekat. Sebuah name tag bertuliskan Dokter Adrian tersemat di sebelah kiri dadanya.

Perawat meninggalkan mereka berdua, setelah memberikan berkas rekam medis pada Sofia.

Sofia membaca isi berkas dengan seksama.

“Aku akan minta perawat menjaga selama dua puluh empat jam di sini,” sambung lelaki itu tegas.

“Aku yang akan menjaganya,” sahut Sofia.

“Ayolah Sofia, jangan terlalu keras pada dirimu.”

 

Sofia mendongak, menatap tajam lelaki bertubuh tinggi di hadapannya.

“Aku sudah memutuskan,”

“Bagaimana dengan rencana makan malam kita?” Suara lelaki itu terdengar lemah. Kenapa begitu berat buat perempuan yang ia cintai itu menerima hatinya.

“Aku tidak pernah bilang iya,” elak Sofia.

Kemudian ia mendekati pasien kecilnya yang tergolek lemah. Memerhatikan wajah cantik itu lekat. Pergelangan tangan kirinya terbalut perban. Apa yang sudah menimpanya tentulah sangat berat.

Tiga hari yang lalu seorang nenek tergopoh-gopoh datang ke rumah sakit, memberitahukan tentang Tiara yang ngamuk dan mengancam untuk bunuh diri. Dua orang perawat pria mengunjungi kediaman sang nenek yang berjarak dua kilometer dari rumah sakit dan  berhasil membawanya.

Tiara adalah cucu dari anak perempuannya yang kini entah dimana. Sejak bayi, ia ditinggal begitu saja karena kedua orang tuanya pergi ke kota untuk mengadu nasib.

Tak banyak informasi yang bisa ia gali, neneknya bilang sudah sebulan ini Tiara berubah.

“Biar saya yang jaga di sini, Bu.” Suara perawat  mengusik lamunannya.

Sofia melirik perawat yang sudah sedikit tua itu, badannya memang terasa lelah. Mungkin istirahat sebentar akan menyegarkan tubuhnya.  Adrian sudah tak terlihat, mungkin ia pergi dengan kecewa.

“Saya akan ada di ruang khusus,” sahutnya.

Sebelum keluar, ia menatap Tiara lama.

***

Ruang khusus tempat Ibu angkat, dan Sofia istirahat. Kadang beberapa kejadian mengharuskan mereka tetap berada dekat rumah sakit.

Sofia melepas ikatan rambutnya, membuka sepatu dan bertelanjang kaki. Menekan tombol playlist di laptop kerjanya.

Aku tersesat menuju hatimu, beri aku jalan yang indah

Suara Astrid mengalun lembut, merambat ke seluruh ruas-ruas hatinya.  Sofia membuka lemari yang terkunci.

Sebotol bourbon whiskey selalu bisa menenangkan kegalauan hatinya. Kini ia tahu kenapa ibu angkatnya, pemilik rumah sakit ini selalu menyembunyikan alkohol ini.

“Kadang kita butuh sedikit rasa berbeda, ketika menghadapi ketidakwarasan dunia ini.”  Ucapan ibu angkatnya terngiang di kepala

Perempuan berambut ikal sebahu itu menuangkannya pada gelas kristal yang terletak di meja.

Pasien-pasien kecilnya selalu membawa pada memori yang ingin ia hapus. Termasuk Tiara, mengingatkan pada sebelas tahun yang lalu. Saat ia berniat mengakhiri hidup menggunakan silet yang ada di laci rumahnya.

Sofia menarik napas panjang, menyenderkan punggung ke kursi suede hitam. Kilasan masa lalu mulai berkelebatan di kepalanya. Masa mudanya tidak terlalu menyenangkan, penuh pertengkaran orang tua yang membuat otaknya sakit. Sofia remaja menikmati kebebasan, mencari arti kebahagiaan yang tidak ia dapatkan dari keluarga. Sampai seorang lelaki membuatnya jatuh cinta, dan mengabaikannya.

Sambil menyesap whiskey, Sofia membuka file, beberapa foto lama muncul di layar. Tangannya berhenti pada saat layar datar itu menampilkan gambar seorang lelaki. Sofia memicingkan mata sayunya, degup jantung selalu bergetar hebat saat menatap gambar lama di depannya. Kemudian debaran itu menimbulkan sesak, menyisakan lubang  hitam di rongga dada.

“Penolakan selalu menyakitkan … ” lirihnya.

Rasa kecewa dirasakan Sofia, penolakan dari anak lelaki itu membuat hatinya hancur. Seakan dunia runtuh. Hampa dan kesepian selalu membayangi, menjadikan dirinya pribadi yang menuntut kesempurnaan.

Bertemu ibu angkatlah yang membuat Sofia bangkit, dan akhirnya memilih menjadi konselor. Bukan semata untuk membantu orang membutuhkan jasanya, secara tidak langsung ia ingin terbebas dari rasa yang membelenggunya selama ini.

 

***

pict source by Google

Manik mata hitam itu terlihat redup. Tiara menolak berbicara, ada kemarahan tersirat dari raut wajahnya. Kertas kosong di hadapannya tak ia sentuh. Crayon warna -warni tak menarik perhatiannya.

“Kadang berbicara akan lebih menyenangkan,” ucap Sofia lirih.

Gadis itu masih terdiam, melihat perempuan berkulit putih itu dengan tatapan kosong. Walau psikiater cantik itu, terlihat lembut dan dapat dipercaya Tiara tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Bayangan hitam itu selalu mendekat, mulutnya terbuka lebar memperlihatkan giginya yang tajam,   menghantui setiap ia mengeluarkan kata. Suaranya tegas dan mengancam.  Sekuat tenaga ia berteriak. Bayang hitam itu semakin membesar, membuatnya sesak napas, mencabik persendian dan merobek ulu hatinya. Menghancurkan kehormatan dan harga dirinya sebagai perempuan.

”Tak ada yang peduli dan percaya semua omongannya. Gadis bau kencur yang diterlantarkan ibunya sendiri, seumur hidup hanya akan jadi cemoohan orang lain.” Suara lelaki itu menggema di kepalanya.

Tiba-tiba ada kekuatan besar dalam dirinya. Tiara berdiri, mendorong perempuan berkaca mata itu. Sofia tergeletak di lantai, tubuhnya lemah tak mampu menahan Tiara yang berlari keluar dan melompat dari lantai lima.

 

  – – – – – –

 

Selalu ada alasan yang membuatmu ingin hidup, saat kau ingin mengakhirinya. — Sofia

 

[Ditulis oleh Seli Andriyani]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *