Basagita Community — Foto merupakan salah satu alat yang kerap dijadikan sebagai penyimpan kenangan. Banyak orang mengabadikan setiap moment yang dilalui dengan melakukan foto baik bersama saudara, kerabat, atau bahkan orang yang dicintai. Dengan alasan ini, tak jarang orang rela mengorbankan apa saja asal dapat memiliki foto yang menarik, bagus dan pastinya unik. Tahukah Basagiters? Jika berfoto atau selfie bisa menjadi sebuah masalah gangguan kejiwaan yang wajib kita hindari?

Kenapa selfie bisa menjadi tanda gangguan kejiwaan? Tentu kita tidak akan menyadari alasan apa yang mendasari hal ini. Kegiatan selfie yang berlebihan dengan waktu dan tempat yang salah menjadi alasan kuat adanya gangguan kejiwaan bagi Anda yang gemar selfie. Seperti yang baru-baru ini terjadi di lokasi bencana Tsunami Banten dan Lampung. Banyak sekali pengunjung yang menuju lokasi hanya untuk berswafoto tanpa menyadari rasa kecewa dari para korban bencana alam tersebut atas sikap para pengunjung.

Menurut beberapa psikologis menilai jika apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut merupakan tanda matinya rasa empati dalam diri. Untuk lebih jelas, berikut ini Basagita uraikan beberapa masalah kejiawaan yang kerap dikaitkan dengan selfie. Salah satu diantaranya adalah sebagai berikut ini:

1. Selfistis

pict source by Youtube

Selfistis merupakan salah satu gangguan jiwa pada penderita yang merasa jika ada yang kurang saat belum mengunggah hasil selfie ke media sosial. Adapun tingkatan gangguan kejiwaan ini dibagi menjadi beberapa bagian seperti penemuan dari peneliti yang berasal dari Nottingham Trent University serta Thiagarajar School of Management yakni:

a. Boderline ( selfie dengan jumlah sedikit maksimal tiga kali dan tidak diunggah ke media sosial)

b. Acute ( selfie maksimal tiga kali dan mengunggah semuanya ke media sosial)

c. Chronic ( sebuah keinginan untuk melakukan swafoto secara berlebihan tanpa melihat waktu, kapanpun, dimanapun dan mengunggahnya ke media sosial lebih dari enam kali dalam waktu satu hari)

2. Narsistik

pict source by Google (Lampost.co)

Gangguan kejiwaan selanjutnya adalah Narsistik. Sebuah masalah kejiwaan yang ditandai dengan adanya keyakinan bahwa seseorang merasa lebih menarik, lebih pintar, serta lebih baik dari pada orang lain namun memiliki perasaan tidak aman yang selalu menghantui.

3. Histrionik

pict source by Google (pribadinesia.com)

Gangguan kejiwaan ini tidak jauh berbeda dengan narsistik. Histrionik merupakan gangguan kejiwaan yang menyebabkan penderita ingin menjadi pusat perhatian. Gangguan kepribadian ini merupakan salah satu kondisi yang paling identik dengan para penggila selfie saat ini. orang yang mengalami kondisi ini memiliki emosi yang tidak stabil. Bukan hanya itu, harga dirinya bergantung pada komentar dan like yang ia dapatkan pada media sosial.

 

Selain ketiga gangguan kejiwaan di atas ada objektifikasi juga termasuk dalam gangguan kejiwaan yang kerap dikaitkan dengan selfie. Pada kondisi ini, penderita akan melibatkan penilaian orang lain terhadap diri sendiri namun bukan untuk hal yang positif.

Tidak ada salahnya berfoto untuk mengabadikan setiap moment yang kita lalui. Namun saat berfoto dengan kondisi dan keadaan serta tempat yang tidak memungkinkan, seperti lokasi bencana alam dan musibah itu merupakan salah satu tanda jika rasa empati pada hati pengunjung telah tiada.

Meskipun memiliki suatu tujuan seperti menunjukkan telah menyalurkan bantuan, tidak perlu berfoto di lokasi bencana jika hanya untuk mengejar like dan viral. Penanaman rasa empati bisa menjadi cara ampuh untuk menghindari masalah gangguan kejiwaan yang kerap dialami para pencinta selfie.

 

[Ditulis oleh Elly Almayra]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *