Basagita Community – Ada istilah bahwa penulis Indonesia adalah orang bermental baja, sudah tahu kalau minat baca penduduk Indonesia rendah, masih saja nekat ingin menjadi penulis. Lantas bagaimana menurut Anda?

Sebaiknya pikir-pikir lagi jika ingin mencemplungkan diri di dunia literasi. Jangan sampai alasan Anda cuma mau ikut-ikutan teman. Dunia literasi tak seindah bayangan orang. Banyak yang menyangka penulis itu gampang banget dapat uang, hanya duduk berdiam di balik laptop, selebihnya punya banyak waktu luang lantas mendapatkan transferan. Apakah Anda juga berpikir demikian? Sebagai pertimbangan, berikut ini adalah sedikit informasi mengapa menjadi penulis itu sulit.

1. Harus mengingat-ingat pelajaran Bahasa Indonesia yang didapatkan waktu sekolah.

Setiap orang pasti pernah mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia. Baik itu pemahaman tentang tanda baca, ejaan yang sesuai KBBI, kalimat efektif, dan lain sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, semakin jarang menggunakan bahasa baku maka sebagian besar ilmu tersebut hilang dengan sendirinya. Padahal, no excuses, semua penulis wajib hukumnya menulis sesuai kaidah penulisan yang berlaku. Bahkan saat menulis novel yang ringan dengan bahasa slang sekalipun, tetap tidak lantas cuek terhadap tanda baca, bukan?

2. Penulis harus banyak membaca.

Hal ini sudah tentu mutlak, meski pembaca belum tentu jadi penulis. Bahkan pembaca buku pun belum tentu bisa berganti posisi menjadi penulis. Apalagi jika Anda tidak suka baca, jangan bermimpi untuk menjadi penulis.

3. Penulis harus peka terhadap lingkungan.

Hal ini tentunya berkaitan dengan pencarian ide. Tugas seorang penulis tidak selesai setelah kelar menuliskan satu buku atau satu artikel saja, bukan?

4. Penulis mampu memahami karakter penerbit yang dituju.

Usai menyelesaikan naskah langkah berikutnya tentu mencari penerbit. Anda selayaknya memahami karakter penerbit yang dituju. Apakah penerbit tersebut khusus mencetak buku religi, ataukah khusus mencetak buku untuk remaja? Terkadang alasan penolakan naskah bukan karena tulisan tersebut jelek, bisa jadi karena tidak sesuai dengan pasar penerbit.

5. Kadang memilah antara idealisme dan pangsa pasar.

Apakah Anda berjuang untuk menjaga kualitas tulisan, atau lebih memilih untuk mengikuti pangsa pasar? Semua ada di tangan Anda. Misalnya, mengapa cerita tentang orang kaya jahat merundung orang miskin masih sering tayang di televisi? Hal ini tentu bergantung pada reaksi yang diterima. Bisa jadi tulisan sudah bagus dan bermanfaat tapi tidak disukai masyarakat.

6. Royalti seorang penulis kecil.

Tahukah berapa royalty yang bisa Anda dapatkan dari menerbitkan sebuah buku? Hanya sekitar 7%, bisa lebih kalau penulis terkenal. Sementara Anda memilih percetakan indie, tergantung kesepakatan dari mereka. Ada yang menetapkan royalti sekitar 10%, tapi banyak juga yang tidak menetapkan royalti dan menentukan nilai keuntungan dari hasil penjualan. Ya, pada akhirnya harus mampu menjual buku yang Anda terbitkan sendiri.

7. Penulis harus siap mental.

Saat menulis di sosial media beragam reaksi yang akan diterima. Namun apapun reaksi mereka, penulisan tanda baca tidak akan menjadi masalah. Sebaliknya saat mengirimkan naskah kepada penerbit, pahami bahwa ada berbagai macam tipe editor. Yang pasti editor tidak mau tahu siapa dan bagaimana latar belakang Anda. Saat tulisan terlihat jelek di mata mereka, maka bersiap-siaplah ditolak. Anda memang harus menyiapkan diri dengan berbagai kritikan editor. Selanjutnya bila naskah lolos seleksi dan terbit, bersiap-siaplah menerima komentar dari pembaca dengan berbagai karakter. 

Nah Basagiters, dengan referensi di atas masihkah Anda mau menjadi penulis? Jika renjana memang membawa ke arah dunia literasi, kenapa harus takut? Siapkan mental dan teruslah menulis apapun yang terjadi. Salam literasi!

[Ditulis oleh Emmy Herlina]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

10 Komentar

Dian Restu Agustina · 07/06/2018 pada 6:08 pm

Yup.. Setujuuuu. Apalagi kalau masalah idealisme, maunya pasar dan tulisan viral… Jadi terpaksa ngalah, nulis yang jadi trending topic dan bukan yang dipikir baik.

    Basagita · 08/06/2018 pada 4:35 am

    yaps, tapi sebenarnya yang penting adalah terus menulis apapun yang terjadi.

    Semangaaaat!
    makasih kakak sudah mampir

HeNee · 07/06/2018 pada 10:21 pm

Masih mau doooong jadi penulis hehehe. Semangattt!! Luruskan niat “menulis untuk menebar kebaikan” semoga niat yg baik membawa kita ke arah yang baik juga. Thanks sharingnya mba 🙂

    Basagita · 08/06/2018 pada 4:36 am

    Semangaaat mbak, terus menulis yaaaa.
    makasih sudah mampir

HeNee · 07/06/2018 pada 10:23 pm

Masih mau dooong jadi penulis hehehe. Semangaattt!! Luruskan niat “menulis untuk menebar kebaikan” semoga niat yang baik membawa kita ke arah yang baik yah mba. Terima kasih sudah berbagi mba 🙂

Nurul Fitri Fatkhani · 08/06/2018 pada 2:42 pm

Betul…betul..kalau mau jadi penulis, jadi harus ingat-ingat pelajaran Bahasa Indonesia, harus bisa memilih idealis dan mangsa pasar, dan masih banyak hal lainnya, ya…hihihi

Bety Kristianto · 08/06/2018 pada 3:53 pm

Hanya orang yang tough, yang sanggup benar-benar konsisten menulis. Semangatt!

Witri Nur · 08/06/2018 pada 4:27 pm

Waah aq nekat nih. Tapi harus yakin, pantang menyerah, dan dibawa enjoy aja deh. Heheh

Jeanette Agatha · 08/06/2018 pada 8:33 pm

Menjadi penulis bukan sesuatu hal yang sepele. Walaupun hanya seorang blogger, harus tetap memperhatikan KBBI dan tanda baca. Terima kasih untuk sharingnya. 😊

arachis Verania Ve · 12/06/2018 pada 2:09 pm

Siap. Insya Allah. Apapun yang terjadi. Skill bisa di latih, ilmu bisa di cari. Maju terus selagi matahari masih akan bersinar esok hari….

Thanks sharing nya. Salam literasi😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *