Basagita Commmunity — Hai, Basagiters! Sejak zaman dulu, masyarakat Jawa ternyata sudah memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga alam, lho! Hal ini dapat dilihat dari sebuah upacara adat yang dinamakan Merti desa. Kebudayaan ini sudah ada sejak zaman dulu.

Source by: kompasiana.com

Apa itu Merti Desa?

Merti desa adalah sebuah upacara adat yang mengajarkan kepada kita untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Upacara adat ini biasanya dilaksanakan setiap 2 – 5 tahun sekali di desa-desa daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Merti desa memiliki arti bersih desa. Upacara adat ini merupakan simbol rasa  syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan hasil bumi dan kondisi alam yang subur. Merti desa juga merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur dan tokoh masyarakat yang dianggap berjasa dalam cikal bakal terbentuknya sebuah desa.

Source by: Metrotvnews.com

Upacara adat ini terdiri dari beberapa rangkaian ritual. Diawali dengan membersihkan seluruh wilayah area desa. Kegiatan kerja bakti ini, melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Bersama-sama membersihkan sungai dan sekitarnya, saluran air, serta lingkungan sekeliling tempat tinggal.

Dengan menjaga kebersihan sungai dan aliran air, diharapkan irigasi menjadi lancar, tanaman padi tumbuh subur dan panen berhasil. Lingkungan yang bersih akan membuat masyarakat sehat juga, kan, Sahabat Basagiters.

Upacara dilanjutkan dengan arak-arakan atau pawai mengelilingi desa. Di dalam arak-arakan ini ada gunungan yang terbuat dari hasil bumi. Berupa tanaman dari sektor pertanian dan perkebunan. Gunungan ini merupakan simbol sesajen yang dimaksudkan sebagai sedekah. Perwujudan rasa syukur atas berhasilnya panen  yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain gunungan, biasanya ada ubo rampe lainnya. Seperti tumpeng, iwak inkung atau ayam yang masak dalam keadaan utuh, dan makanan pelengkap lainnya. Arak-arakan akan berhenti di kantor desa atau tanah lapang. Pemuka agama akan memimpin doa bersama. Memohon agar diberi keselamatan, keberkahan, dan hasil melimpah di panen selanjutnya.

Gunungan dan ubo rampe tersebut selanjutnya akan dikembalikan kepada masyarakat untuk dinikmati bersama. Acara ini yang biasanya, selalu dinantikan. Gunungan dan segala ubo rampenya akan diberikan dan diperebutkan oleh seluruh masyarakat yang hadir. Masyarakat percaya, bahwa gunungan dan ubo rampe tersebut memiliki keberkahan. Sehingga siapapun yang mendapatkannya akan diberi kesejahteraan.

Source by: Liputan Bantul

Rangkaian acara Merti desa diakhiri dengan pagelaran seni budaya. Menampilkan beragam tarian tradisional. Selain sebagai hiburan, ragam tarian tradisional ini juga merupakan sarana mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda. Pada malam harinya digelar pertunjukan wayang kulit hingga pagi menjelang.

Adat Merti desa pada dasarnya merupakan perlambang bahwa manusia harus menjaga kelestarian alam dan menjaga kebersihan lingkungan demi kesehatan. Upacara ini juga dimaksudkan sebagai pengingat, supaya kita tidak melupakan tokoh-tokoh masyarakat yang berjasa kepada desa.

Adat budaya Jawa ini juga mengandung filosofi gotong royong dan bekerja sama demi mencapai kesejahteraan bersama. Kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat dan bukan hanya golongan tertentu saja.

Diharapkan dengan Merti desa, masyarakat kembali sadar bahwa menjaga kelestarian alam sangat penting demi keharmonisan dan keseimbangan antara manusia dan bumi atau alam. Merti desa adalah kebudayaan Jawa yang sudah semakin jarang dilaksanakan. Padahal ini memiliki pesan moral yang kuat dan nilai kebaikan.

Adat dan kebudayaan Merti desa ini juga bisa dijadikan daya tarik pariwisata budaya yang wajib dijaga keberadaannya. Kekayaan budaya nasional seharusnya dilestarikan agar tidak luntur dengan derasnya perkembangan zaman. Siap menjadi generasi muda milenial yang tetap menjunjung tinggi kearifan lokal, Sahabat Basagiters?

 

[Ditulis oleh :NCSuryani]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *