Basagita Community — Hallo, Basagiters! Sebelumnya pernahkah kamu mendengar nama Louise Braille? Kalau belum, saat ini Basagita Community akan membahas anak difable yang jenius dan membanggakan dunia.

Lousie Braille adalah anak seorang pengrajin pakaian kuda termahsyur, Simon Braille. Louise lahir disebuah desa di Prancis pada tanggal 4 Januari 1809. Ia mengalami sebuah kecelakaan di bengkel sang ayah, sejak itu pula, Louise yang baru berusia 3 tahun menjadi buta.

Orangtua Louise sadar bahwa menjadi penyandang difabel seperti Louise sangatlah tidak mudah. Tak banyak yang bisa dilakukan seorang tunanetra di Prancis. Sebab itulah mereka mulai mengajari Louise untuk hidup selayaknya orang normal pada umumnya.

Hal pertama yang diajarkan orangtua Louise adalah mengajari Louise untuk mengenali lingkungan sekitar rumah hingga dia fasih berjalan tanpa harus menabrak dan terjatuh. Sang ayah juga mengajari Louise untuk menghaluskan bahan kulit di bengkel ayahnya.

Sementara sang ibu, ia kerap mengajak Louise untuk menyiapkan meja makan malam. Louise sangat paham dimana ia harus meletakkan gelas, sendok, piring dan mangkuk. Berkat didikan orangtuanya, Louise mampu hidup lebih mandiri dari tunanetra kebanyakan. Louise juga punya kemahiran untuk mengenali bunyi, langkah kaki, membedakan suara orang dan banyak hal lainnya tanpa harus meminta bantuan orang lain.

Ketika Louise Braille berusia 6 tahun, kedua orangtuanya sempat dilanda kebingungan mencarikan sekolah khusus penderita tunanetra. Beruntunglah mereka bertemu dengan seorang pendeta, Jacques Palluy, yang bersedia menjadi guru untuk Louise.

Awalnya sang pendeta merasa senang karena bisa membantu Louise, tetapi semakin lama dia merasa kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang banyak dilontarkan oleh Louise.

Sebab itu pula, kemudian pendeta Palluy menitipkan Louise pada satu-satunya sekolah yang ada di Coupvray. Louise sangat senang karena dia bisa bersekolah sebagaimana anak-anak normal lainnya. Semuanya berjalan tanpa kendala. Tapi Louise merasa sangat sedih ketika sang guru menyuruh para murid untuk membuka buku. Saat itu ia berpikir, betapa menyenangkan jika bisa membuka buku sendiri dan membacanya. Selanjutnya, Louise sadar bahwa membaca dan menulis itu sangat penting.

Setelah lama menuntut ilmu di Coupvray, sang pendeta akhirnya menemukan sebuah sekolah khusus untuk penyandang tunanetra. Atas masukan dari sang pendeta, Louise pun didaftarkan pleh orangtuanya ke sekolah tersebut.

Bersekolah di The Royal Institute of Blind Youth, Louise sempat merasakan kesulitan untuk membaca dengan meraba alphabet timbul. Cara ini bukan hanya menyulitkan para tunanetra untuk membaca, namun mereka juga jadi tidak bisa menulis. Selain itu, biaya produksi untuk membuat huruf-huruf timbul juga terbilang sangat mahal. Dan mirisnya, sekolah tersebut hanya menyediakan 14 buku untuk 100 orang siswa penderita tunanetra. Sangat tidak sebanding, bukan?

Pada tahun 1821, seorang perwira, Kapten Charles Barbier memperkenalkan bahasa sandi yang biasa dipergunakan prajurit untuk menyampaikan pesan rahasia. Bahasa itu dikenal dengan nama night writing. Tulisannya dibuat dengan menggunakan sebuah alat bernama stylus untuk menghasilkan titik-titik timbul.

Awalnya night writing ini mendapat respon yang cukup baik dari para penyandang tunanetra. Namun, mereka mulai merasa kesulitan pada bahasa sandi yang hanya melambangkan bunyi dalam satu kata, tanpa angka dan tanda baca.

Terinspirasi dari ide Kapten Charles, Louise melakukan sebuah penelitian rahasia mengenai titik yang melambangkan angka dan alphabet. Sebagai seorang tunanetra, dia paham benar ukuran huruf yang sangat penting untuk memudahkannya membaca.

Pada usia 15 tahun, louise berhasil menyelesaikan penelitiannya. Tetapi ide tersebut sulit mendapat pengakuan karena tercetus dari seorang penyandang tunanetra seperti Louise. Berkat perjuangan dan kerja kerasnya, huruf Braille akhirnya mendapat pengakuan pada tahun 1844 dan mulai diterapkan di sekolah-sekolah khusus tunanetra.

Untuk mengenang jasa Louise, setiap tanggal 4 Januari, yang bertepatan dengan hari lahir Louise, juga diperingati sebagai hari Braille sedunia.

Dari Louise Braille, Basagiters bisa belajar banyak hal, bahwa kekurangan bukanlah hambatan untuk meraih cita-cita dan harapan. Dengan semangat hidup maksimal dan prinsip yang kuat, maka segala mimpi bisa diwujudkan dengan baik.

 

[Ditulis oleh Syefrianidar]


Basagita

Basagita community adalah tempat berkumpulnya para penulis. Baik penulis artikel, fiksi, copywriting, ghoswriter, dan sebagainya. Tidak hanya penulis pemula yang bergabung di situ, tetapi juga penulis senior yang beberapa karya tulisannya sudah diterbitkan oleh mayor publishing atau indie publisihing Bukan hanya berfungsi sebagai wadah yang menampung karya penulis yang ditayangkan di web kita basagita. Basagita community juga mengadakan kelas kepenulisan untuk para penulis pemula, seperti kelas fiksi dan nonfiksi. Selanjutnya mereka dilatih secara intens dalam challenge menulis, sebagai latihan untuk membuat tulisan mereka lebih bagus dan sesuai dengan kaedah PUEBI. Yang lebih menarik lagi, di Basagita Community, ada pasukan buzzer yang siap mempromosikan karya-karya anggota Basagita. Bagi anggota yang mempunyai hobi bisnis, pasukan buzzer juga siap ikut mempromosikannya. Pasukan buzzer juga siap bekerja sama dengan klien di luar komunitas Basagita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *